Koil
Orang-orang Biasa yang Bermusik secara Luar Biasa
Oleh John JS Jakarta –
Meski kini hasrat Koil bukan lagi sekadar merilis lagu-lagunya, intisari album terbaru bertajuk Sistem Kepemilikan (judul tentatif) masih tidak bernada dasar pop yang mudah dicerna.Untuk konsep musik yang bermateri sound dan lirik serbaberat, gelap dan keras itu, ternyata mereka masih saja membutuhkan waktu penyelesaian yang lama sejak debut album perdana di tahun 1996, Megaloblast (2003). Sistem Kepemilikan, menurut rencana, dirilis tahun depan (sebelum Valentine’s Day).Alasannya masih sama, mereka (Otong, Doni, Imo, Leon) membutuhkan dana yang terbilang gede. Dimulai dengan dana kongsian untuk pembangunan studio bernama Massive di kawasan Dago Utara, Bandung. “Studio tersebut dirancang sesuai kebutuhan musik Koil (yang memakai sistem komputer serta pengembangan musik teknologi). Problem ekonomi selalu menjadi kendala kami, karena Koil selalu memakai peralatan mahal yang butuh waktu lama buat mendapatkannya. Walau sesungguhnya karya musik kami tidak tergantung dengan nilai perangkat teknologi,” kata vokalis Koil, Aryo Verdiantoro alias Otong (32) kepada SH, Senin (7/11) siang.Jangka waktu yang lama buat proses pembuatan album studio, menurutnya, juga karena harus terlebih dulu menabung ide. Apalagi sebagai “manusia biasa”, mereka tetap harus menabung buat biaya hidup sehari-hari.Seperti diketahui, di luar profesinya sebagai vokalis, Otong bekerja serabutan untuk sejumlah produk kesenian. Penabuh drum Koil, Leon Ray Legoh, malah merangkap profesi tukang masak di sebuah kantin. “Cara hidup kami layaknya orang biasa, dengan kehidupan bermusik yang dianggap luar biasa,” sambung Otong.Kata “luar biasa” barangkali pantas mengiringi Koil. Pertama kali menarik perhatian publik, mereka mengusung single bertajuk “Mendekati Surga”. Lagu ini bermuatan makna kekuatan diri yang mampu mengubah keberadaan diri orang lain sesuai kemauannya.Bukankah sikap seperti itu sangat penting dilakoni Otong dan kawan-kawan, karena musiknya tentu masih sulit diterima khalayak? “Tentu kami membikin produk (musik dan lagu) yang harus dibeli orang, semacam orang menjajakan batagor di hadapan publik. Akan tetapi yang kami jual adalah batagor berduri,” tambah alumnus ITB dan Itenas itu. Memuncak Keyakinan mereka memuncak, mengingat album kedua bertajuk Megaloblast terjual hingga menyentuh angka 55.000-an. Ini angka penjualan yang ternilai mukjizat bagi pengusung genre musik underground semacam Koil. Saat ini dengan penyelesaian album ketiga, Sistem Kepemilikan, Otong berharap besar bisa meraih nilai jual tiga kali lipat.Ia mengungkapkan corak sound dari album terbaru Koil akan dikemas serbabaru. “Kami tidak lagi bersandar pada heavy metal, malah lebih gelap dari yang terdahulu. Arah liriknya abstrak, penuh khayalan, ngelindur, dan bohong. Suatu hiperbola dari pemikiran yang jelas. Suatu kebohongan sekaligus kebenaran yang tidak perlu diperdebatkan,” ujarnya, lebih jauh.Secara utuh, Sistem Kepemilikan bukan berbicara perihal orang berpacaran atau kasih sayang keluarga, tetapi berkesan menyeluruh tentang cinta kepada keluarga, agama hingga negara. “Lirik-liriknya mungkin tidak penting, namun bisa menjadi renungan hidup. Tentang seberapa besar makna cinta kita. Karena kecil dan besarnya cinta kita, paling penting adalah bagaimana persiapan kita buat berkorban dan membela cinta kita,” lanjut Otong. Persoalan rumit seperti menjadi bagian penting keberadaan Koil sejak mula berdiri pada 1994. Hal itu pernah diungkapkan Otong kepada Suara Merdeka: ”Lirik, musik, dan hidup kami memang dibangun dari satu kerumitan ke kerumitan lainnya. Kami tidak peduli dengan popularitas. Kami hanya peduli dengan kreativitas.” Memahami kerumitan musik yang diciptakan Koil, bukan berarti mereka membuat gaduh, berisik, atau memaki-maki. Sebab, menurut Otong, musik yang mereka ciptakan adalah suatu bentuk kesenian.“Saya berpikir hal yang tidak mudah diterima dari Koil, pada saat ini malah bisa meraih pangsa pasar yang besar,” ungkap Otong yakin. Itulah sebabnya melalui album ketiga nanti, Koil menerima ajakan terpuji agar membuat lirik-lirik lagunya dengan dua bahasa, Indonesia dan Inggris. “Sebetulnya sejak mula kami sudah mendapatkan tawaran internasional semacam itu. Namun, dulu kami nggak mau berbahasa Inggris. Sekarang waktunya ada dan saatnya sudah tepat untuk pasar luar dengan lirik berbahasa Inggris,” kata Otong.
Copyright © Sinar Harapan 2003